tersapa.com | Spectacular 10: Film-Film Terbaik 2015

0
894
views

Mad sedang di dekat mobilnya, sedangkan Nux menyerukan, "What a lovely day!"

Setahun akhirnya berlalu lagi. Hingga penghujung 2015 ini, ratusan judul film telah dilepaskan. Tentu ada yang sukses, secara finansial maupun kualitas, dan atau justru berakhir flop, yang memang buruk atau kurang beruntung. Berikut ini tersapa rangkum daftar 10 film terbaik untuk 2015.

Catatan: tersapa menggunakan skala 10 untuk memberi rating. Namun, ada cara khusus apabila ingin dikonversikan ke format rating skala 5. Yaitu, kurangkan rating skala 10 dengan angka 5 (5 adalah rating minimum mutlak, hal ini untuk menghormati proses, kesungguhan, dan niat yang sudah dilakukan oleh pembuat filmnya). Misalnya: apabila tertulis rating 9.5, maka dalam skala 5 ratingnya adalah 9.5-5=4.5.

 

10. Straight Outta Compton (baca review)

Straight Outta Compton memang menjelma tidak hanya sebagai film yang wajib disimak, namun juga penting. Amati salah satu perkara penyakit HIV/Aids yang juga krusial di salah satu turning point. Pun lihat tentang sang manajer yang justru berasal dari ras kulit putih–Jerry Heller. Ada banyak ekspresi kejujuran yang sanggup menguras ego untuk sejenak termenung, apa yang salah sebenarnya?
9/10

 

09. The Revenant (baca review)

The Revenant mendapuk Leonardo DiCaprio sebagai pemeran utama. Sampai di bagian ini, saya benar-benar tidak habis pikir jika DiCaprio gagal membawa pulang patung Oscars 2016. Selama ini, saya tidak pernah mempermasalahkan DiCaprio yang sudah lima kali gagal meraih penghargaan tertinggi itu. Sebab, tiap kali dia memperoleh nominasi, ada nominator lain yang memang lebih bold penampilannya. Namun, tidak begitu dengan penampilannya di The Revenant. Dia kali ini benar-benar layak dan tidak ada kontender lain yang sekuat dia. Apalagi ketika penokohannya benar-benar diperkuat oleh supporting actors dan departemen teknis kelas gila.
9.2/10

 

08. Star Wars: The Force Awakens (baca review)

Dengan premis yang ada, JJ Abrams yang bisa sangat sophisticated (dan futuristik) dalam berbagai aspek di Star Wars, justru menjadi sangat down to earth. Dia kembali ke formula awal. Dari segi pengisahan, karakter, bahkan visual. Saya bahkan dibuat pangling dengan gaya JJ di sini, Star Wars VII dan Star Trek yang sama-sama dibuat olehnya sukses menunjukkan gaya yang benar-benar berbeda. Dengan kemajuan teknologi saat ini, bisa saja Star Wars dibuat lebih modern lagi, namun JJ dan kru visual effect tidak melakukan itu. Ini menjadi poin nostalgia pertama.
9.5/10

 

07. Room (baca review)

Room adalah sebuah kado sinema yang indah, mengerikan, menakjubkan, sekaligus heartwarming. Selain performa Jacob Tremblay, sosok Ma yang dipertunjukkan oleh Brie Larson dengan sangat baik–apalagi kemampuan gestur dan ekspresinya–, serta penampilan Joan Allen sebagai nenek dari Jack sungguh priceless. Brie mampu menunjukkan detail -detail kecil yang itu penting, misalnya ketika dia gamang dalam menjawab pertanyaan, matanya berkedip berkali-kali dengan cepat–semiotik dasar semacam inilah yang membuat Room menjadi kaya. Hubungan emosional tanpa syarat semacam ini seolah menjadi sebuah tontonan yang ajaib untuk bisa terjadi–mengingatkan dengan hubungan batin antar karakter di Boyhood.
9.5/10

 

06. Beast of No Nation (baca review)

Abraham Attah dan Idris Elba benar-benar mencuri perhatian. Chemistry keduanya tak terbantahkan. Entah hubungan sebagai atasan dan bawahan, maupun hubungan seolah ayah anak. Kehidupan yang nampak tak berujung bagi tiap karakter dibalut dengan nuansa kelam yang hadir di mayoritas adegan. Rasa sesak semakin menjadi karena dipandu narasi dari mulut Agu sendiri. Dampak baiknya, tidak ada scene yang tercecer, semuanya memiliki kegunaan masing-masing dalam membangun mega sebab akibat.
9.5/10

loading...

 

05. Me, and Earl, and the Dying Girl

Tiga karakter utama yang juga mengisi slot judul merupakan keunikan yang tak terbantahkan. Penokohan dan pola pikir masing-masing serta hubungan eksternal mereka sukses mengalir tanpa ada perasaan terpaksa untuk ikut mengiyakan. Me, and Earl, and the Dying Girl menyajikan kemasan yang universal dan jujur. Kesan humor yang menjadi pelumernya bahkan tidak hanya ketika berhadapan dengan isu besar: kanker remaja, namun juga ketika beberapa hal klise berhasil nampak tidak menyebalkan. Film ini memberikan kesegaran yang langka, sebab tidak semua film bisa memberikan verdict yang sama-sama bold antara kisah kehidupan dan taburan humor yang berbalut kemalangan.
9.5/10

 

04. 99 Homes (baca review)

Andrew Garfield lewat 99 Homes berhasil menunjukkan penampilan terbaik sepanjang karir beraktingnya–dengan tanpa melupakan ketotalan Andrew di The Social Network. Inilah saatnya menyaksikan Andrew memerankan karakter yang cukup menarik, seorang tukang bangunan serabutan segala bidang. Bahkan ketika dipasangkan dengan Michael Shanon, justru chemistry keduanya benar-benar semakin terbangun. Pertemuan perdana mereka, yaitu ketika Carver sedang mengurusi penyegelan rumah Nash, langsung menunjukkan bahwa pilihan cast utama di film ini tidaklah salah.
9.5/10

 

03. Inside Out (baca review)

Nilai lebih dari Inside Out adalah narasi yang juara. Tidak banyak film yang berhasil memberikan narasi kuat pada struktur naskahnya. Sehingga teknik narasi semacam itu juga tidak bisa dibilang mudah. Jika salah poin, maka bisa dipastikan akan jatuh klise atau bahkan bisa lebih buruk. Narasi Inside Out adalah ungkapan menyentuh tanpa syarat, siapa pun bakal dengan mudah dibuat terisak. Atau kalau masih kurang, dengar dan amati dialognya. Lugu, lucu, dan campuran berbagai emosi manusia ada di situ. Pada bagian ini, jajaran para pengisi suara sangat layak untuk mendapat pujian.
9.5/10

 

02. Spotlight (baca review)

Spotlight adalah film yang sangat tepat apabila masyarakat ingin mengetahui bagaimana proses jurnalistik yang benar. Jurnalistik adalah proses panjang untuk mengarah pada kebenaran bagi publik. Tidak seperti yang terjadi di mayoritas media di Indonesia saat ini, media seolah hanya asal ada, mudah dikendalikan. Spotlight secara terang-terangan memperlihatkan bahwa meskipun seseorang narasumber telah mengutarakan suatu hal, mereka tidak bisa begitu saja percaya. Meskipun informasinya menggiurkan, pimpinan kelompok itu tetap meminta supaya dilakukan background check.
10/10

 

01 Mad Max: Fury Road (baca review)

Angkat topi untuk George Miller. Waktu vakum yang cukup lama dari seri Mad Max sebelumnya ternyata sukses dimanfaatkan untuk terus menggali potensi-potensi yang ada. Karakter yang lebih kuat, storyline yang lebih handal, pun pemilihan momen serta kritik kehidupan apa saja yang ingin disisipkan di sepanjang durasi. Seperti apa yang dia sempat bilang: Fury Road cukup dijadikan sebagai sebuah masterpiece-nya yang lain, yang bisa berdiri sendiri. Bukan menjadi sekuel, maupun prekuel. Dan ya, bahkan penonton awam pun (yang belum pernah menonton Mad Max pendahulunya) saya yakin bakal dengan mudah terperosok jauh ke dalam pusaran gurun pasir dan badai pasir yang memabukkan.
10/10

 

Honorable mention

(memperoleh rating 9 dari tersapa, urutan berdasarkan ranking 11 dan seterusnya): The Big Short, The Hateful Eight, The Martian, The Hunger Games: Mockingjay Part 2, The Little Prince, Creed, Ex Machina, Mission: Impossible Rogue Nation, Avengers: Age of Ultron

loading...