#SpectacularTen 10 Film Terbaik 2016 (Bagian 1)

0
372
views

filmterbaik

Di lini film, diversitas untuk 2016 cukup berbeda dengan 2015, bahkan tahun-tahun sebelumnya: sangat beragam. Tahun ini hampir mustahil menentukan front-runner alias pemimpin klasemen ajang penghargaan. Bandingkan dengan tahun lalu yang paling tidak bisa lebih jelas: antara Spotlight dan The Revenant; atau di 2014 antara Birdman dan Boyhood.

Bukan berarti keluaran tahun ini buruk. Justru 2016 memberikan penonton sangat banyak alternatif dari beragam genre yang ada. Tidak hanya itu, genre-genre yang sebelumnya identik dengan citra kurang oke pun kali ini memperoleh “sokongan” dari film-film yang ternyata mumpuni.

Sebut saja genre horor yang bisa dibilang pada 2016 mencapai salah satu titik terbaiknya. Horor tidak melulu tentang tampilan mengagetkan, mengerikan, dilengkapi scoring tidak beradab. Tengok Don’t Breathe yang berhasil mengembalikan “jati diri” horor, bahwa genre ini tidak melulu tentang demit dan dedengkotnya.

Komedi pun demikian. Pikiran kita akan dengan mudah merujuk Bad Moms sebagai pengisi garda depan. Dan memang film ini secara kualitas bagus.

Namun, tidak berarti 2016 mulus begitu saja. Sampai menjelang akhir tahun, muncul banyak sekuel-prekuel-spinoff yang beraneka rupa. Ada yang bagus banget, tetapi tidak sedikit pula yang tiarap. Masih pula ditambah lumayan tricky-nya memilih mana film-film yang layak masuk bursa awards season.

Apa pun kondisinya, 2016 sudah tiba di penghujung. Dan seperti tradisi sebelumnya, short-list penerima label terbaik sudah dibuat, rentang periodenya antara 30 Desember 2015 hingga 30 Desember 2016. Kali ini ada 13 judul film berating 9/10 bintang atau lebih yang gagal masuk ke 10 besar, yaitu (klik link masing-masing judul untuk baca review lengkap): 11. Captain America: Civil War (9.5/10); 12. Arrival (9.2/10); 13. Zootopia; 14. Everybody Wants Some!!; 15. Jackie; 16. Toni Erdmann; 17. Sully; 18. Fences; 19. Rogue One: A Star Wars Story; 20. Birth of A Nation; 21. Lion; 22. Kubo and the Two Strings; dan 23. The Mermaid (13-23 berating 9/10).

Tanpa perlu berlama-lama lagi, berikut tersapa bekerjasama dengan ngepop sajikan daftar film terbaik #SpectacularTen 2016!

10 movie tersapacom

10. Sing Street

Aneh itu menonton film yang awalnya menampilkan tokoh yang sangat meragukan, tetapi di akhir muncul perasaan membuncah, “We want more! We want more!”.

Sing Street mengajari kita bagaimana menangani situasi secara sewajarnya, tidak banyak menuntut. Ini adalah film yang sederhana dan tidak neko-neko. Tahu-tahu kita semacam sudah menuntaskan kuliah 3 SKS selama satu semester setelah credit title bergulir—tentang kajian ekonomi, kritik sosial fragmen perkembangan video musik, hingga anak muda.

Ya, Sing Street meenjadi contoh yang sangat baik tentang bagaimana cara memasukkan sangat banyak informasi ke dalam film tanpa harus terkesan overwhelming. 9.5/10

09 movie tersapacom

09. Batman v Superman: Dawn of Justice (baca review)

Apabila di-zoom out, naskah BvS akan nampak dipenuhi oleh jaring-jaring underground kepentingan politik dan filosofi. Jaring-jaring tersebut memegang peran krusial dalam menciptakan dan menjaga keterhubungan antar sequence. Inilah yang membedakan ranah Marvel dan DC–bahkan nuansa politik Iron Man sekali pun tidak sepekat ini. Atas dasar inilah maka proyek ambisius DC di layar lebar–dimulai oleh Man of Steel–menjadi sajian yang dinantikan. Opsinya cuma ada dua: berhasil menyampaikannya atau gagal tersungkur.

loading...

Saya melihat BvS sebagai sebuah film yang sukses menerjemahkan fondasi itu ke dalam naskah dan kemudian audio-visual. Plot film ini benar-benar sistematis dan rapat. Di awal memang penonton seolah disuguhi keping puzzle secara acak, namun sebenarnya itu tidak acak sama-sekali.

Ketika durasi terus bergulir, penonton akan sadar bahwa film ini menuntun secara perlahan sambil terus melengkapi susunan puzzle yang tetap diproduksi. Maka efek sampingnya adalah akan ada penonton yang tetap sabar mengikutinya dengan penasaran; atau malah sebaliknya, sudah keburu kesal–durasi dua setengah jam.

Bagi golongan pertama, BvS bakal langsung memberikan kado sequence spesial mulai di pertengahan durasi–yang sangat menyegarkan mata, telinga, dan otak. Namun, golongan kedua sangat mungkin akan langsung menarik kesimpulan bahwa filmnya buruk, sugestinya bisa terus berjalan begitu sampai penghujung durasi. 9.5/10

08 movie tersapacom

08. Midnight Special (baca review)

Midnight Special adalah empati tanpa syarat.

Bahkan ketika kamu tidak sepenuhnya memahami setiap dialog yang dilontarkan, itu bukanlah perkara besar. Film ini bukan di tipe “membimbing penonton”, tetapi “berjalan bersama penonton”. Semua tidak kentara bakal berakhir seperti apa dan bagaimana. Tetapi ada satu keyakinan yang terus menyala terang di sepanjang durasi. Seterang pendar mata Alton, si bocah tokoh utama.

Ingin lebih mindblowing lagi? Dengan percaya diri saya katakan sebenarnya Midnight Special adalah film yang bisa ngomong tanpa harus ada dialog! Serius. Seluruh emosi yang coba digelontorkan sudah tersemat di mimik muka serta gestur masing-masing karakternya. Itulah mengapa sekalipun film ini di-mute atau paling tidak disisakan scorring serta efek lain (misal suara tembakan dan ledakan) itu sudah lebih dari cukup.

Nampak di sini bahwa Midnight Special adalah pengalaman sinematik seutuhnya. 9.5/10

07 movie tersapacom

07. Ngenest (baca review)

Ngenest harus mendapat apresiasi yang layak. Sejak premis diumbar ke penonton, saya sudah dibikin takjub dengan naskahnya, dialognya. Saya langsung bisa menilai, bahkan ketika durasi baru lima menit awal, bahwa screenplay-nya sangatlah cerdas, juara. Literally cerdas.

Saya semacam menemukan orang terkasih yang sudah lama saya tunggu, yang bahkan sebelumnya saya masih sangat samar dengan wujudnya, utopis. Selama ini saya mengira mungkin tidak akan ada film Indonesia yang bisa membuat dialog berbahasa Indonesia begitu lumer, natural, komikal, tanpa meninggalkan kesan “meh”. Ngenest meruntuhkan kegamamangan saya selama bertahun-tahun itu. Di film ini, akhirnya saya bisa melihat “wujudnya” yang selama ini sangat samar, menjadi sungguh jelas.

Selain itu, dengan sangat banyaknya karakter yang ditampilkan, Ngenest mampu membaginya sesuai porsi. Tidak ada yang terlalu sedikit dan tidak ada yang terlalu dominan. Oh, dan para pemerannya benar-benar tidak salah pilih.

Rating 9.5/10 (atau 4.5/5 dalam skala 5) untuk Ngenest, sampai saat ini, adalah rating tertinggi yang pernah saya berikan bagi film Indonesia. Benar-benar salut. 9.5/10

06 movie tersapacom

06. Captain Fantastic

Paruh pertama Captain Fantastic adalah kondisi ideal atas aspirasi terbesar yang ada di benak generasi saat ini. Siapa yang tidak ingin hidup bebas di alam, hidup dengan caranya sendiri, membesarkan generasi dengan cara-cara yang dianggap paling realistis, tidak terpasung oleh pakem dan batasan-batasan di masyarakat umum. Ini adalah perayaan kebebasan.

Captain Fantastic menyodorkan begitu banyak keajaiban lewat para pemeran briliannya. Lebih brilian lagi karena naskahnya memang sangat istimewa. Menggugat hal yang selama ini juga sering saya risaukan: mengapa ada batasan ini, itu? Namun pada akhirnya di satu titik film ini paham bahwa benar-benar lepas dari relasi luar itu mustahil. Kondisi yang sempat membuat saya ingin ikut muntab ketika menyaksikannya.

Apakah berhenti di situ—menyerah pada keadaan? Bukan Captain Fantastic kalau tidak fantastic. Mereka terlalu menarik untuk hidup sekadar biasa-biasa saja. 9.5/10

ters movie tersapacom

 

loading...