Review Game | PES 2015: Engine Lama Kualitas Prima

0
353
views

pes

Menjelang penghujung 2014, para penggila bola kembali disibukkan pada pemilihan game mana yang hendak dimainkan dalam satu musim kedepan. Persaingan antara Fifa 2015 besutan EA Sport dengan PES 2015 yang merupakan mahakarya Konami masih menjadi bahan perdebatan dikalangan gamer.

Tahun lalu, persaingan sempat mengendur dikarenakan penjualan PES 2014 kalah telak dibandingkan Fifa 2014. Penurunan penjualan tersebut dikarenakan Konami mencoba menawarkan gameplay yang benar-benar baru sehingga tak pelak banyak kekurangan disana sini. Tak ingin jatuh di lubang yang sama, Konami sepertinya sudah mempelajari segala kekurangan yang ada PES 2014 dan pada edisi PES 2015 segala lubang yang dibuat oleh pendahulunya coba ditutup sehingga menjadikan persaingan antara Konami versus EA Sports kembali memanas. Pada kesempatan kali ini Tersapa.com coba menyajikan review singkat PES 2015 yang mungkin bisa dijadikan pertimbangan untuk memilih mana yang akan anda mainkan untuk setidaknya satu tahun kedepan.

Spesifikasi

Dikarenakan penulis memainkan pada konsol PC maka spesifikasi game adalah sesuatu yang wajib diketahui sebelum menjalankan game tersebut. Menjadi sia-sia apabila kita telah mendapatkan game tertentu tetapi PC kita tidak mampu untuk menjalankan game tersebut. Berikut spesifikasi yang dibutuhkan untuk menjalankan PES 2015:

pes_2

Selain dapat dinikmati via PC, Konami sendiri telah mengumumkan bahwa PES 2015 juga tersedia dalam versi PlayStation 4, PlayStation 3, Xbox One, dan Xbox 360.

Gameplay

Kemajuan teknologi spesifikasi pada konsol otomatis memungkinkan developer untuk menciptakan game yang senyata mungkin. Hal tersebutlah yang coba direalisasikan Konami melalui PES 2015 ini.

Pada awalnya saya meragukan kenyamanan yang coba ditawarkan oleh PES 2015 mengingat pada edisi kali ini mereka tetap menggandeng Fox sebagai engine pengembang. Keraguan ini cukup beralasan dikarenakan Fox jugalah yang membesut PES 2014 dan hasilnya bisa kita lihat sendiri betapa buruknya gameplay yang mereka sajikan. Tetapi, segala praduga yang saya pikirkan runtuh seketika tatkala mulai memainkan game ini.

Wasit meniup tanda permainan dimulai dan pada operan ketiga saya langsung melakukan kesalahan passing. Hal ini sempat membuat saya kaget, karena tidak biasanya passing saya meleset. Awalnya saya berpikir mungkin ini karena kebiasaan saya memainkan Fifa sehingga wajar apabila melalukan kesalahan. Namun, ketika teman saya yang memang terbiasa memainkan PES mencoba memainkannya dia ternyata juga terkadang melakukan kesalahan passing. Setelah saya coba memainkannya cukup lama, saya merasakan bahwa ternyata kemampuan kita dalam melakukan passing benar-benar diuji pada PES 2015 ini yang menjadikan bola tidak terasa seperti magnet. Hal lain yang menarik adalah gerakan dari tiap pemain dalam melakukan passing, shooting hingga dribbling sesuai dengan ciri khas mereka di dunia nyata. Ditambah lagi pada edisi kali ini gamer tidak akan disuguhi gerakan-gerakan alay seperti yang terlihat pada edisi sebelumnya. Gerakan-gerakan pemain dibuat sealamiah dan serealistis mungkin agar menimbulkan kesan nyata pada setiap detail-detail permainan.

Grafis

Pada umumnya permasalahan grafis adalah pertimbangan utama para gamer akan membeli game yang mana. Sebagai game yang mengakar pada dunia nyata, dengan pelaku yang biasa kita lihat pada layar kaca setiap harinya maka tidak mengherankan apabila PES dan Fifa berlomba-lomba untuk menyajikan grafis yang semirip mungkin dengan dunia nyata. Tidak hanya berkisar pada tekstur wajah saja, tetapi pada grafis-grafis minor seperti gerakan baju yang mengikuti gerakan tubuh pemain, tekstur lapangan, hingga mimik wajah pun coba ditampilkan guna menghasilkan grafis yang semirip mungkin dengan dunia nyata.

Baju Sergio Ramos yang mengikuti gerakan tubuhnya serta celana yang kotor akibat melakukan tackle
Baju Sergio Ramos yang mengikuti gerakan tubuhnya
serta celana yang kotor akibat melakukan tackle

Berbeda dengan Fifa 2015 yang sejak awal “menjual” visual, PES 2015 tidak terlalu menggembar-gemborkan tentang grafis ini. Memang harus diakui bahwa grafis yang disajikan Fifa selalu selangkah lebih nyata dibandingkan dengan PES maupun WE. Namun, pada PES 2015 ini Fox Engine sukses membuat wajah yang terlihat lebih nyata dibanding edisi-edisi sebelumnya terkhusus detail wajah pemain-pemain ternama. Selain pada detail wajah, mimik wajah yang ditampilkan juga terkesan nyata mengikuti gerakan apa yang dilakukan oleh seorang pemain.

loading...
Neuer tampak bersusah payah dalam menangkap bola.
Neuer tampak bersusah payah dalam menangkap bola.

                Jika dapat dirangkum, sebetulnya peningkatan grafis tidaklah terlalu drastis, mengingat pada PES 2014 Fox Engine telah digandeng untuk mengembangkan salah satu franchise terlaris ini. Akan tetapi peningkatan yang tidak terlalu drastis ini sudah dirasa puas oleh sebagian para gamer mengingat pada edisi sebelumnya gamer sudah dibuat muak pada gameplay sehingga tidak lagi memperhatikan detail-detail pada grafis yang sebetulnya memberi kepuasan yang lain dalam menjalankan game ini.

Hal-Hal Lain Penunjang Kepuasan

Football is nothing without fans. Itulah ungkapan Jock Stein, pelatih Glasgow Celtic entah pada periode kapan. Saya rasa ungkapan tersebut benar adanya, mengingat pertandingan sepak bola akan terasa krik…krik apabila tidak ada teriakan-teriakan dukungan pembakar semangat para pemain kedua klub yang sedang bertanding. Sayang sekali pengembang game ini tampaknya para pengembang gameini kurang peka terhadap isu tersebut. PES 2015 masih hadir dengan konsep chants lama. Sekadar penonton berteriak sana-sini, dengan nada tinggi merendah tergantung dengan aksi yang gamer lakukan. Untuk urusan yang satu ini, tampaknya Konami serta Fox Engine masih harus belajar dari EA Sports yang bisa menghasilkan atmosfer stadion yang wow banget.

Hal-hal lainnya yang mungkin tidak kita sadari keberadaannya adalah soundtrack yang disuguhkan. Pada edisi terdahulu Konami selalu menyuguhkan soundtrack yang asing pada telinga penikmat musik cetakan billboard. Band-band indie dari seluruh dunia dengan musikalitas yang saya rasa lebih berkelas dibanding musik-musik mainstream. Namun, pada PES 2015 ini soundtrack yang disuguhkan sebagian adalah musik-musik yang masuk dalam jajaran billboard.

Berikut soundtrack yang disuguhkan PES 2015

  1. American Authors – Best Day of My Life
  2. Avicii – Wake Me Up
  3. Bastille – Pompeii
  4. Bombay Bicycle Club – Luna
  5. Calvin Harris – I Need Your Love (feat. Ellie Goulding)
  6. Cold War Kids – Miracle Mile
  7. Imagine Dragons – Demons
  8. Linkin Park – All for Nothing (feat. Page Hamilton)
  9. Morning Parade – Shake the Cage
  10. The Preatures – Is This How You Feel?
  11. Wilkinson – Afterglow

Kesimpulannya

                Dan pada akhirnya perbaikan-perbaikan yang dilakukan oleh PES 2015 dari versi sebelumnya terutama dari sisi “kosmetik” dan atmosfer pertandingan yang jauh menggugah serta realistis patut diacungi jempol. Terbukti dari berbagai kritikus game memberikan nilai yang tinggi untuk franchise yang baru saja dirilis pada 11 November lalu. IGN sebagai IMDB-nya game tidak ragu-ragu memberikan nilai 9 dari 10, pun dengan metacritic yang memberikan nilai 83 dari 100 kepada game ini. Skor-skor tersebut terlihat sesuai dengan apa yang coba dijanjikan CEO Konami Eropa yang mengatakan bahwa PES 2015 akan benar-benar berbeda dengan seri sebelumnya. Lebih lanjut lagi Shinji Hirano mengatakan bahwa:

Saya tidak bisa menceritakan lebih detail lagi mengenai apa yang kita sedang lakukan dengan studio game di Inggris, namun mereka sedang mengerjakan proyek selanjutnya dan mereka akan membuatnya dengan kebutuhan para pemain Eropa. Ini saatnya membuat seri PES menjadi global, jadi PES 2015 tidak akan dibuat oleh orang Jepang saja seperti yang selama ini kita lakukan.

Kita tahu apa yang salah dengan PES dan kita akan perbaiki hal itu. Seri selanjutnya akan benar-benar berubah. 2014 akan menjadi tahun yang besar bagi seri PES untuk berubah. Jadi siap-siap saja kedatangan hal yang besar.

Meskipun PES 2015 mendapat banyak reaksi bagus dari para gamer serta kritikus game, tetapi tugas berat masih harus dihadapi Konami dan Fox Engine apabila ingin menyamai kesuksesan Fifa. Bagi saya pribadi yang dua tahun belakangan beralih ke Fifa, perkembangan PES 2015 memang menunjukkan performa yang meningkat dari seri sebelunya, tapi sayangnya, saya belum menemukan alasan untuk kembali kepada PES 2015. Namun, untuk para PES mania mungkin game seri ini akan menjadi sesuatu yang lebih memanjakan mata dan tangan PES mania sekalian.

Ditulis oleh: Nur Mahfudh

loading...