Pesona Gunung Gede via Selabintana [Part 2]

1
236
views

gede

Pintu masuk jalur Selabintana kecil dan sering membingungkan pendaki yang terjebak mengikuti jalan besar menuju air terjun. Vegetasinya rapat dan langsung menanjak. Seketika nafas gue tersengal-sengal. Suatu kondisi yang wajar karena biasanya 1 jam di awal pendakian badan gue beradaptasi, ber-resisten, dan berpikir ulang kenapa mau-maunya gue capek mendaki. Biasa lah, lamunan si bodoh.

Gelap demi gelap kita tembus dan dari kejauhan terdengar suara adzan subuh berkumandang. Kita memutuskan berhenti sejenak untuk sholat. Walaupun tidak terlalu suci, menurut gue sholat di jalur pendakian atau di puncak gunung terasa lebih khidmat dan syahdu. Cuma ada kita, Allah SWT, dan alam.

Selepas sholat, perjalanan kita lanjutkan. Pada saat matahari mulai terbangun dan cahaya mulai menyusup menyinari hutan, pada saat itu lah kami bertemu dengan para penghuni jalur Selabintana. Mereka dinamakan pacet, sebuah makhluk yang berbentuk seperti cacing dengan ukuran sebesar dua ruas jari kelingking dan bergerak menggunakan mulut. Begitu melihat ke bawah, ternyata perjalanan gue ditemani oleh 3 ekor pacet yang nangkring di celana dan baju.

Jikalau pacet itu sempat menyentuh kulit, maka darah kita akan dihisap olehnya. Mereka akan melepaskan gigitannya apabila badan mereka sudah bengkak dan penuh. Manusia perlu belajar dari pacet, mereka aja tahu kapan harus berhenti, tidak tamak dan kemaruk.

Apabila ditarik paksa, kulit kita akan ikut ketarik dan terluka. Oleh karena itu kita siap sedia bawa minyak sereh supaya gigitan pacet akan terlepas sendiri saat diolesi minyak. Mungkin mereka males dengan bau minyak sereh yang sengit atau mungkin mereka sedih karena bau minyak sereh seperti bau nenek-nenek. Mungkin mereka ingat nenek mereka masing-masing di kampungnya.

Untungnya pacet yang nempel di baju dan celana gak sempat menyusup ke permukaan kulit. Belum perlu minyak sereh, hanya butuh daun kering untuk mencabut gigitan pacet tersebut. Sebelum mencabut, gue melihat cara mereka bergerak. Mereka memakai gigitan itu sebagai penampang untuk kemudian salto dan merambat pelan-pelan sampai menemukan kulit-kulit lezat yang siap dihisap. Mereka terlihat seperti cacing tanah psikopat.

Pukul 07.00 kita sampai di pos pertama. Sambil duduk dan merenggangkan kaki, kita menikmati sajian Coki-Coki, biskuit gandum, dan madu sachet. Setengah perjalanan sudah kita lalui, di pos ini terdapat papan penunjuk jalan bertulisan : Surya Kencana 6,5KM. Lumayan, jalur Selabintana yang (konon) berjarak 11KM sudah kita lalui hampir setengahnya.

DSCF0192
Perjalanan dilanjutkan melalui hutan-hutan yang masih rapat dan ditemani suara-suara binatang. Burung-burung berkicau riang di pagi hari yang hangat itu dan dari puncak pepohonan terdengar suara monyet-monyet yang sedang meloncat kesana kemari. Selain itu perjalanan kita juga ditemani seekor lebah (atau tawon?)  yang setia mengikuti kita di sepanjang perjalanan menuju Surya Kencana.

Sekitar 09.30 kita sampe di pos Cileutik yang sering disebut sebagai pos air terjun oleh para pendaki. Namun kenyataan tak sesuai dengan namanya, air terjunnya sudah tidak ada dan mata airnya tidak melimpah. Entah apa yang terjadi dengan Gunung Gede, ada beberapa air terjun yang sudah tidak berfungsi lagi. Di pos ini, ada papan penunjuk jalan : Surya Kencana 2,5KM.

Mengingat pada pagi hari kita bisa menempuh jarak 4,5KM dalam tempo 3 jam, tentu jarak segitu bisa ditempuh lebih cepat. Perkiraan kita 1 jam udah bisa sampe di Surya Kencana. Tapi bohong. Nol besar.

loading...

Jalur 2,5KM terakhir menuju alun-alun Surya Kencana memiliki kontur sempit, menanjak curam, dan licin. Tanahnya lempung dan berliku-liku. Vegetasi nya juga sulit ditebak dan cenderung PHP. Biasanya tanda-tanda akhir jalur adalah vegetasi mulai renggang dan pohon-pohon semakin pendek. Namun ternyata kita malah dibelokan ke arah lainnya, mengitari berkas cahaya yang seakan memanggil di ujung pendakian.  Pola jalur di 2,5KM akhir adalah : Tanjakan curam, kemudian datar sedikit, mentok, belok, dan nanjak lagi. Begitu terus sampe pukul 12.00.

Setelah melalui tanjakan yang cukup membuat frustrasi, akhirnya kita sampai di Surya Kencana. Pintu masuknya kecil menurun dan melalui semak-semak rapat. Setelah melalui semak-semak, kita disambut puncak gunung Gede yang berdiri kokoh dan angkuh menantang langit. Hamparan padang edelweiss tersebar indah, memanjakan mata dan menghapus lelah. Kaki gue seperti menerima injeksi adrenalin, dari lemas jadi semangat. Semangat untuk foto-foto. Ingat, jangan tinggalkan apapun selain jejak dan jangan ambil apapun selain foto.

gede3

Puas foto-foto dan berteriak-teriak, kita bergerak mendekati jalur ke puncak Gunung Gede. Setelah dapat lapak, kita langsung menggelar flysheet dan buka bekal makan siang. Istirahat dan santai-santai sejenak.

Baru juga mau bersantai, angin tiba-tiba bertiup kencang dan hampir menerbangkan flysheet. Bentuk Surya Kencana yang seperti lorong menambah kencangnya tiupan angin. Tak beberapa lama, hujan deras turun, padahal seluruh tas dan alat-alat masih diluar. Jadi lah kita kelimpungan masang dome di bawah terpaan hujan dan angin. Sambil menunggu dome berdiri, gue membelah jas hujan dan membungkus seluruh tas. Di sisi lain, temen gue menyalakan kompor untuk bikin kopi. Kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan walau badai sekalipun.

Kopi panas pun tidak terasa di kulit. Koalisi hujan, angin, dan suhu rendah membuat badan menggigil, seperti mati rasa. Namun saat air kopi mengalir di tenggorokan menuju perut, badan serasa hangat. Nyaman sekali rasanya. Selalu ada sisi positif disaat terburuk sekalipun, hanya perlu mengalihkan pandangan ke arah lain.

Pukul 15.00 kita bergerak dari Surya Kencana untuk turun lewat jalur Putri. Kondisi cuaca yang mendung dan berangin membuat kita memutuskan untuk tidak ke puncak Gede. Selain tidak ada yang bisa dilihat karena berkabut, kita juga gak bisa foto-foto disana karena hujan.

Turun dari jalur Putri, gue seakan napak tilas pendakian pertama. Bahkan gue masih inget batu tempat gue tepar. Kondisi jalur pada saat itu cukup ramai, mengingat kita turun pada hari Sabtu, 19 September 2014. Beberapa kali orang menyapa dan bertanya, “Masih jauh gak mas?”.

Jawaban gue selalu sama, “Dikit lagi, palim cuma 30 menit.” Dimanapun. Kapanpun. Boongin anak orang.

Jalur Putri sebenarnya cukup singkat (untuk turun), tapi yang menyebalkan adalah kontur akhir jalur yang entah mengapa disemen. Sehingga sangat licin apabila setelah hujan. Hal ini cukup berbahaya dan bisa membuat orang terpeleset. Padahal kontur asli jalur putri berupa tanah gembur yang sangat nyaman untuk dipijak.

Pukul 18.15 akhirnya kita sampe di posko Green Ranger. Perjalanan ke Gunung Gede via Selabintana resmi berakhir. Sempet juga terjadi drama karena pihak Green Ranger ngotot kalau surat izin seharusnya dikasih ke tim Panthera yang jaga di pintu masuk jalur Selabintana. Padahal waktu kita lewat, mereka masih sibuk mendaki gunung di alam mimpi. Heran, di gunung masih ada saja birokrasi rumit. Gak mungkin juga dong kita balik ke Pondok Halimun lagi untuk sekedar kasih kertas-kertas izin itu?

Pendakian one-day-trip ini merupakan pengalaman baru untuk gue. Ragu di awal nikmat di akhir. Ternyata segala kesusahan dan keraguan itu akan terasa indah di akhir, apabila kita yakin akan kemampuan diri sendiri dan sabar saat menjalaninyai. Akhir kata, mari keluar dan nikmati Indonesia.

Kembali ke bagian 1

Penulis: Mirzal Dharmaputra

Diambil dari blog pribadi atas izin sang penulis, mirzaldputra.blogspot.com

loading...