Pendakian Lawu: Menggapai Puncak Seribu Cemara (Bagian 3)

0
246
views

bagian 3b rev

1.30 WIB

Suara alarm yang memekakkan telinga membangunkan kami pukul 1:30 pagi. Segera kami beringsut keluar tenda dan bersiap untuk melakukan summit attack. Sempat terjadi sedikit perdebatan karena Zulfi ingin tetap tinggal di camp akibat pusing yang dirasakannya semalam belum juga mendingan. Terdorong oleh paksaan dan bujukan kawan yang lain, akhirnya, Zulfi memutuskan untuk ikut muncak. Sebuah keputusan yang tidak akan dia sesali.

Hawa dingin yang sangat menusuk menjadi tantangan terbesar kami pagi itu. Felix dan Puspa bahkan baru selesai mengenakan jaket lapis keempat di tubuh mereka. Lainnya mengoles tubuh dengan counterpain atau menutup kepala dengan kupluk agar tetap hangat. Setelah berdoa dan melakukan pemanasan, kami akhirnya mulai meniti langkah menuju Puncak Hargo Dumilah.

Jalur yang kami lewati adalah jalan setapak dengan jurang di kedua sisinya. Landai memang, tapi jika tidak hati-hati kemungkinan terperosok ke jurang sangatlah besar. Zulfi yang berjalan di depan saya berulang kali menghentikan langkahnya karena rasa sakit di kepala yang terus mendera. Hawa dingin pegunungan menyebabkannya bertambah parah. Untuk mengurangi rasa sakitnya, Nathasha menempelkan selembar salonpas di bagian belakang leher Zulfi.

“Biar anget, Zul.”

Setelah berjalan selama 45 menit kami beristirahat di sebuah warung yang terletak di sebelah mata air Sendang Drajat. Warung tersebut memiliki atap kayu dan berdindingkan terpal. Tempat yang cukup hangat untuk singgah dan mengisi tenaga kembali. Dari balik pintu warung yang tertutup, saya mendengar suara radio tengah menyiarkan gelaran wayang kulit. Saya berpikir, mungkin itu adalah satu-satunya hiburan duniawi yang bisa didapatkan oleh sang pemilik warung di ketinggian seperti ini. Seserpih keriuhan manusia di tengah sunyinya semesta Wukir Mahendra.

Merasa tubuh telah segar kembali kami pun segera melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan kami merasa kebingungan saat jalur terbelah menjadi dua. Satu jalur sedikit berbelok ke kiri dan arahnya langsung menanjak ke atas. Jalur lainnya tetap lurus dan terlihat landai. Dengan pertimbangan sedikit ngawur, bahwa jalan menanjak pasti cepat sampai, kami pun memilih jalur yang kiri. Selama 30 menit kami terus berjalan menanjak melewati jalan tanah berbatu. Satu pertanyaan menggelayuti benak saya sejak tadi, apakah ini jalan yang benar menuju puncak?

loading...

Woi puncak tuh!” teriak Zaki tiba-tiba sambil mengarahkan telunjuknya ke depan.

Merah Putih di puncak LAwu
Merah Putih di puncak Lawu

Mendengar hal tersebut sontak saya memicingkan mata ke arah yang ditunjuknya. Benar saja, di ujung jalur pendakian terlihat sebuah tugu dengan puncak bendera merah putih terlihat berkibar gagah. Tugu yang dibangun oleh Kopassus di puncak Lawu. Keraguan saya pun seketika musnah berganti dengan rasa gembira. Terdorong kegembiraan yang sama, kawan-kawan lain semakin mempercepat langkah mereka menuju puncak.

Pukul 4.30 kami akhirnya menorehkan jejak di Puncak Hargo Dumilah. Kami lantas memberikan ucapan selamat kepada satu sama lain, dan mengucap syukur atas keberhasilan ini. Dari atas, lampu-lampu di Karanganyar dan Magetan berpendar begitu memukau . Kemilau cahaya bintang membuat bentang alam di sekeliling Lawu terlihat jelas hingga batas horizon. Senang rasanya bisa menikmati suguhan seindah itu setelah memacu keras akal dan raga sepanjang perjalanan.

Ketika matahari terbit di ufuk timur, semburat cahaya keemasan perlahan keluar menerangi atap dunia. Langit pagi itu menyuguhkan sebuah pemandangan yang sangat memesona. Warna hitam sisa malam, warna biru langit pagi, serta cahaya emas mentari berkombinasi membentuk sebuah gradasi surgawi. Inilah yang membuat kami rela bersusah payah melakukan pendakian. Inilah titik puncak perjalanan kami kali ini. Dan puncak Wukir Mahendra ini menjadi titik awal kami untuk menggapai puncak-puncak lainnya esok hari.

Selesai.

Klik di sini untuk membaca bagian 1

Klik di sini untuk membaca bagian 2

Penulis: Farras Muhammad

Editor: Aef Anas

loading...