Masih Bisa Sombong, Liverpool?

0
124
views

Setelah sebelumnya finis di posisi kedua musim lalu, mungkin sisa-sisa sifat congak firaun masih tertinggal.

“We go again” Seakan menjadi semboyan kembalinya hagemoni Liverpool di tanah Britania musim lalu. Disebut-sebut sebagai salah satu kandidat juara, namun impian tersebut sirna begitu saja setelah drama tangis air mata di Selhurst Park. Terlihat jelas romantisme tangisan Luis Suarez dalam dekapan superhero mereka, Steven Gerrard. Tak mau kalah, pendukung The Reds pastinya turut mengharubiru larut dalam drama yang sedang diperlihatkan penggawa mereka. Namun bagi pesaing lainnya, hanya bisa tertawa getir melihatnya.

Pada pertandingan sebelumnya malah lebih menggelitik lagi. Sebenarnya, laga melawan Chelsea menjadi salah satu katalis ke tangga juara jika saja mampu menundukan anak asuh Jose Mourinho.  Namun Mou sepertinya tidak tinggal diam. Mou menyewa bus Kopaja untuk parkir di depan gawang Petr Cech. Tidak hanya itu, belum  genap sepuluh menit pertandingan berjalan, Mou sudah mengisyaratkan membuang-buang waktu. Sampai pada akhirnya, klimaks itu pun terjadi. Kapten yang mereka dewa-dewa dalam sosok Gerrard ,berbuat hal konyol. Maksud hati ingin menerima bola, namun bola yang tidak ingin bersanding di kakinya. Gerrard terpeleset dan membuang trofi Premier League di depan publik Anfield. Padahal, trofi impian sudah sedikit lagi dalam genggaman.

Tentu, hal ini membawa membawa olok-olokan tersendiri dari klub rival, Manchester United. “Bebe saja masih bisa memenangi liga, kapetn kalian?” mungkin seperti itulah isi hati para pendukung yang lebih terseok-seok di musim lalu.

Pada akhirnya, memang Liverpool harus puas duduk diperingkat kedua, terpaut dua angka dari Manchester City. Namun Liverpool masih dapat membanggakan hal lainnya, 100 gol dan kembali ke Liga Champions–yang mana rival abadi mereka masuk Liga Eropa pun tidak.

Musim ini 2014/15

Kepergian sesosok diver dalam diri lumba-lumba bergigi tajam nan mematikan, Suarez nyatanya memiliki dampak besar bagi lini serang The Reds. Brendan Rodgers seperti kehilangan keahliannya dalam meramu racikan taktik yang tepat, atau mungkin taktiknya musim lalu  hanya ada satu,  ‘berikan saja bolanya ke Suarez dan kita tunggu golnya’. Entahlah. Namun yang pasti panic buying guna menggantikan El Pistore  tidak berbicara banyak. Rodgers malah mendatangkan, tetua bernama Ricke Lambert dan ‘seorang apel busuk’ dalam sosok Balotelli. Bahkan, dikabarkan Balotelli harus menandatangani klausul berperilakuan baik karena trauma dengan sosok terdahulunya.

loading...

Sosok Lambert  mungkin dipilih karena pengalaman dan juga dirinya tidak harus beradaptasi lagi di kancah Liga ter-glamour di dunia. Namun hasilnya berkata lain, Lambert belum mengemas satu gol pun di liga. Pun demikian dengan Balotelli yang masih mandul hingg sekarang ini. Dari total 11 laga  di seluruh kompetisi yang dijalaninya, hanya satu kali saja striker Italia merobek jala lawannya. Bahkan mantan pemain Liverpool mengkritik habis-habisan permainan Balotelli kala melawan Real Madrid di Champions League lalu. “Apakah saya berpikir jika dia akan bertahan lama di sini? Tidak. Saya malah akan terkejut jika dia masih berada di sini musim depan.” Gerutu pencetak gol bunuh diri terbanyak kedua di Premier League tersebut. Maybe, three haircuts is more important than a goal.

Di lini belakang pun juga terlihat mengkhawatirkan, Liverpool harus menerima kenyataan jalanya selalu dijebol lawan 18 game beruntun. Back four pun turut bertanggung jawab. Bahkan ada yang mengusulkan untuk menarik Carra sebagai pelatih lini belakang. Usulan tersebut di tolak mentah-mentah oleh Rodgers yang menyatakan timnya tidak membutuhkan pelatih spesialis lini bertahan. Dalam benaknya mungkin, serang, serang, serang dan gol, bodo amat dengan lini belakang.

Jika berkaca dari musim lalu, Liverpool berbenah dengan mendatangkan sosok Dejan Lovren, Alberto Moreno dan Javier Manquillo. Loyalitas seorang Daniel Agger pun ditanggalkan. Hasilnya? Masih mengecewakan. Dari Sembilan pertandingan, 12 gol bersarang di jala Simon Mignolet. Kritik juga tertuju pada Mignolet yang disebut-sebut tidak bisa mengoordinasikan para back four di depannya.

Tidak heran jika musim ini, Liverpool terseok-seok di papan tengah dan juga di Liga Champions. Pada midweek lalu, Liverpool kalah 3-0 dari Real Madrid di Anfiled. Setelahnya, laga melawan Hull City hanya berakhir 0-0. Mengenaskan jika meniliki komentar Rodgers seusai laga, yang mengatakan permainan anak asuhnya melawan Hull lebih baik daripada saat menghadapi Madrid. Are you kidding Mr. Brendan? Tim medioker sekelas Hull tidak bisa disandingkan dengan Los Galacticos. Jelas, jika Liverpool yang disebut-sebut sebagai salah satu pesaing gelar juara harus mampu bermain baik melawan tim medioker.

Pada akhirnya, kesimpulannya sangat mudah, para pendukung setia The Reds sepertinya akan tetap setia melihat klubnya tidak mampu juara. Hanya sejarah yang mungkin menjadi satu-satunya alat kesombongan mereka. Benar begitu, Liverpool?

loading...