Indonesia, Penonton Bukan Kompetitor

0
127
views

Sejarah dahulu selalu berpihak ke negara yang namanya Indonesia.

Mia Audina
Mia Audina

Indonesia memiliki sejarah manis dalam percaturan bulutangkis dunia. Sejarah yang tidak akan pernah terlupa oleh bangsa ini. Susi Susanti misalnya,pernah mencatatkan diri sebagai pebulutangkis yang meraih emas Olimpiade tahun 1992 di Barcelona dan salah satu peraih gelar All England terbanyak membuat namanya begitu fasih di telinga nama pecinta bulutangkis Indonesia.

Dia tidak sendiri,dulu Indonesia punya ‘Si Anak Ajaib’ Mia Audina, yang saat masih berumur 14 tahun telah menjadi tulang punggung Indonesia. Memang, dia pindah kewarganegaraan Belanda pada tahun 1999, tapi jasa-nya selama 5 tahun dengan membawa banyak gelar tentu tidak akan pernah terlupakan.

Namun apa yang terjadi dengan Tunggal Putri Indonesia sekarang? bak pesawat jatuh yang hancur tidak meninggalkan puing-puing, Tunggal Putri Indonesia sekarang tidak memiliki sisa-sisa kejayaan. Kejayaan itu hanya berakhir di tangan Maria Kristin, di tahun 2007-2008, setelah mampu meraih Medali Emas Sea Games dan Perunggu Olimpiade Beijing 2008. Setelah Maria Kristin tersangkut cedera, sisa kejayaan tersebut hilang tanpa jejak.

loading...

Tunggal Putri Indonesia bisa dibilang sekarang terlemah. saat negara-negara lain seperti Spanyol, Thailand, Korea dan Jepang mulai menyaingi Tiongkok di ajang level superseries, Tunggal Putri Indonesia masih saja berkutat di turnamen level IC dan sesekali GP, tempat mereka setidaknya bisa mendapatkan gelar juara.

Disaat persaingan Tunggal Putri mulai bergeser ke umur dibawa 20 tahun, lihat saja Ratchanok, Akane, Nozomi dan Carolina Marin, Indonesia masih saja mengandalkan atlet tidak belia minim prestasi: Adriyanti, Lindaweni dan Bellaetrix.

Hanna, sebagai salah satu atlet potensial yang masih berumur 19 tahun, dinilai kurang matang. footwork, variasi pukulan dan endurance, sangat tertinggal jauh oleh pemain seumuran, Ratchanok Intanon asal Thailand. Ruselly pun demikian. Pemain ulet yang memiliki etos tinggi, tapi tidak diimbangi dengan stamina yang bagus. Georgia dianggap masih terlalu muda karena masih berumur 15 tahun.

Memori hanya tinggal memori. Kejayaan itu harus bisa terulang, karna ini sudah saatnya Indonesia menjadi kompetitor, bukan lagi penonton.

loading...