Gunung Sindoro: Puncak dengan Tiga Lapangan Sepak Bola  

0
476
views
Gunung-Sumbing-Sindoro-6
Sumber Foto: Indovolcano

“Mas kalau mau nge-camp, dipuncak aja mas, ada tiga lapangan sepak bola,” seperti itulah saran dari salah satu rombongan pendaki yang kami temui saat perjalanan dari pos dua ke pos tiga.

Saya sempat berpikir,”Masa iya ada lapangan sepak bola?” Kami pun hanya bisa mentertawakan guyonan rombongan tersebut karena terasa aneh.

**

Gunung Sindoro merupakan salah satu gunung yang berada di Temanggung, Jawa Tengah. Gunung yang mempunyai ketinggian 3150 mdpl tersebut berhadapan langsung dengan Gunung Sumbing yang seakan tidak bisa terpisahkan hingga kiamat kelak. Jika kalian sulit membayangkan, coba pikirkan lukisan kalian saat masih anak-anak—TK ataupun SD—yang menggambar dua gunung dengan matahari tepat di tengahnya, ditambah sawah-sawah terhampar dikiri-kanannya. Ya, seperti itulah gambaran kedua gunung tersebut.

Kami sendiri beranggotakan lima orang yang mempunyai rencana dadakan untuk mendaki. Pilihan mendaki menjadi opsi paling menyenangkan setelah melalui kuliah yang sedikit membosankan. Tanggal 3 Agustus 2014, perjalanan kami dimulai dari Yogyakarta. Sebenarnya, kami yang tidak sepenuhnya tahu arah menuju ke Sindoro, terpaksa mengandalkan print gambar google maps, karena keterbatasan gadget yang dimiliki. Menyedihkan memang, tapi tak apalah yang penting sampai tujuan dengan selamat.

DSC_0721
Google Maps yang di-print

Sesampainya di desa Kledung, kami sempat bertanya ke warga sekitar,”Pak Gunung Sindoronya yang mana ya?” Pertanyaan yang sebetulnya kurang bisa dimaklumi karena biasanya orang mendaki setidaknya sudah mengetahui letak tujuannya. Bapak tersebut dengan baik hati menunjukan arah Gunung Sindoro. Kami pun hanya bisa tertawa geli di dalam hati.

loading...

Setelah sesampainya di Basecamp Kledung, kami memutuskan untuk melakukan perjalanan setelah sholat ashar. Perbekalan kami tata ulang kembali serta tidak lupa melakukan registrasi. Sekitar jam 15.20, kami mulai melakukan perjalanan yang cukup panjang. Untuk menuju ke pos satu, sebenarnya tidak terlalu sulit, namun cukup jauh karena harus melewati rumah-rumah penduduk serta ladang garapan mereka. Jarak dari basecamp awal sampai ke warung pertama, sekitar 2km. Pemandangan pun hanya dihiasi sawah-sawah saja, namun jika melihat ke belakang, pesona Gunung Sumbing begitu luar biasa.

Pos demi pos kami lewati, dan membawa kami bertemu dengan berbagai rombongan yang hendak turun. Banyak obrolan ringan terjadi hingga saran untuk menginap di puncak saja. Pada akhirnya saran itu berlalu begitu saja karena kami mendirikan tenda sedikit di atas pos 3. Cuaca yang mulai dingin serta malam yang mulai menyergap menjadi pertimbangan. Kami menghabiskan malam dengan makan bersama dengan sesekali cada tawa di samping api unggun. Setelahnya, kami memilih tidur untuk melanjutkan perjalanan di pagi hari.

Jam 02.00 alarm mulai mengacaukan alam mimpi kami. Sesuai kesepakatan bersama, mau tidak mau kami melanjutkan perjalanan dengan meninggalkan tenda sewaan. Keputusan tersebut sebenarnya sedikit gambling, karena pernah beberapa waktu lalu, ada rombongan pendaki yang kehilangan tenda saat ditinggal.

Ritme perjalanan kami tidak bisa dikatakan cepat karena kami lebih banyak meluangkan waktu  beristirahat dan ngobrol di perjalanan. Sunrise pun hanya didapat saat di jalan. Tapi hal tersebut tidak terlalu mengecewakan, yang terpenting matahari cepat keluar karena kami sudah kedinginan.

DSC_0708
Puncak Gunung Sindoro

Setelah beberapa bukit didaki akhirnya sampai juga di puncak. Namun respon kami semua adalah,”Loh katanya ada lapangan bolanya?”. Yang kami lihat di sana adalah, semburan-semburan asap yang keluar dari kawah. Namun untunglah teman saya berkelakar,”Udah coba jalan ke kanan dulu aja,”

Kata-katanya bak wahyu yang datang di tengah kebingungan kami. Kami pun sepakat menuruti kata-katanya. Benar saja, tidak lama berjalan, kami sudah disuguhi pemandangan yang menyejukan mata dan hati. Lapangan sepak bola ternyata benar adanya, dalam artian hamparan sabana yang sangat luas. Angin seakan turut merayakan kedatangan kami karena dorongan-dorongannya cukup kuat untuk menggoyahkan badan yang sudah lelah ini. Mereka juga seolah-olah berkata,”Ayo ke sini, bermainlah bersamaku,”.

loading...