Forum Film Fisipol UGM 2016: Mendekatkan yang Dianggap Jauh

0
170
views

Suatu hal yang jauh bakal tetap terasa jauh kalau tidak diingatkan tentang eksistensinya. Kalimat ini berlaku juga untuk kasus-kasus khusus: sesuatu yang dekat juga bisa jadi malah dianggap jauh. Isu-isu sosial-politik misalnya.

Ada dua kategori orang dalam menanggapi fenomena sosial-politik: tertarik atau anti.

Kondisi demografis Indonesia yang sangat kompleks otomatis memunculkan banyak fenomena di sekitar, setiap hari. Bagi sebagian orang, selalu ada kejadian unik yang bisa terjadi. Mereka yang menaruh perhatian lebih pada hal-hal semacam ini masuk dalam golongan yang tertarik.

Di lain pihak, saking semrawutnya kondisi masyarakat yang ada, justru kepusinganlah yang didapat. Ada lagi bias yang muncul di mana-mana, termasuk bias literasi. Maka tidak heran kalau kemudian golongan ini jadi cukup percaya diri menyebut diri mereka anti terhadap bahasan sosial-politik.

Fisipol UGM menangkap kegelisahan tersebut. Harus ada cara khusus supaya dua golongan bisa sama-sama “menikmati” kudapan yang cukup berat ini. Hasilnya, dilaksanakanlah Forum Film Fisipol pada 10, 11, dan 12 November 2016 di Fisipol UGM dan Kedai Kebun Forum.

Keasyikan menonton karya audio-visual yang dirajut dengan diskusi panjang lebar tentang permasalahan di sekitar nyatanya berhasil menjembatani semua kalangan. FFF tidak pernah sepi sejak hari pertama hingga terakhir.

Saat tulisan ini dibuat, FFF sudah berlalu sekira sepekan. Masihkah ada bekasnya?

Kalau boleh merangkum secara bebas, tersapa melihat bahwa usaha yang dilakukan oleh acara ini adalah mendekatkan yang dianggap jauh.

Ya, pasti ada di antara kamu yang tiap pagi makanannya adalah isu-isu yang dijadikan bahasan FFF. Namun bagaimana dengan kawan-kawan lainnya?

Secara umum ada lima tema utama (dengan enam sesi) yang dipantik oleh 23 film—satu di antaranya adalah film panjang. Yaitu mendedah SARA, seksualitas dan politik, tanah dan berbagai konfliknya, batas dan identitas, serta Papua.

Coba tersapa cuplik beberapa hal-hal menarik di pelaksanaannya.

Seksualitas dan politik memegang rekor sebagai yang terbanyak kedatangan partisipan—lebih dari seratus orang.

Dengan tema yang nyatanya memang masih menjadi hal sensitif di Indonesia, diskusi sesi ini menjadi sangat terbuka dan hidup. Inilah salah satu alasan kuat mengapa frasa mendekatkan yang dianggap jauh menjadi semakin relevan.

Sesi seksualitas FFF 2016
Sesi seksualitas FFF 2016

tersapa yakin bahwa yang hadir pada waktu itu kadar pemahamannya berbeda-beda berkaitan dengan seksualitas. Oleh karenanya peran daftar film yang akan diputar sebagai “ajang pengenalan” jadi vital.

Film Renita, Renita (2007) memberi gambaran tentang kehidupan transgender di Indonesia; Aban+Khorshid (2014) menampilkan kepiluan pasangan gay yang dihukum gantung; The Fox Exploits the Tiger’s Might (2015) melihat janggalnya perkembangan seksualitas remaja; dan Prenjak (2016) menunjukkan bagaimana eksploitasi seksualitas itu amat dekat dengan masyarakat.

loading...

Selesai pemutaran, tamu-tamu undangan yang berasal dari pengamat dan perwakilan komunitas saling mengungkapkan pengalaman dan pandangannya. Dengan berbagai fakta yang diungkapkan, nyatanya bisa memberikan pemahaman baru bagi yang mungkin masih belum awas dengan detailnya.

Sesi kali itu sanggup memancing audiens luas untuk saling mengungkapkan pikirannya. Itulah mendekatkan yang dianggap jauh. Perkara yang selama ini nyata di sekeliling, tetapi sering luput dari radar.

Ambil contoh lainnya, di sesi Papua. Selama ini kita menganggap sikap defensif masyarakat di luar Papua terhadap orang Papua adalah hal yang wajar. Ini terjadi sebab masyarakat kita, sadar maupun tidak sadar, masih mengiyakan tindakan diskriminasi atas nama ras.

Melalui sesi ini, meskipun dengan skala yang tidak terlalu besar, paling tidak audiens bisa melihat secara lebih dekat bagaimana kawan-kawan kita di Papua menangani berbagai macam persoalan hidup yang ada.

Bukan dari kabar simpang siur yang selama ini kita dapatkan atau diskriminasi yang masih saja dilakukan oleh media, tetapi dari mereka langsung.

Sesi ini mampu membuka mata, menunjukkan bahwa kawan-kawan kita di Papua tidaklah berbeda. Hanya saja kesempatan yang diberikan kepada mereka masih terlalu-terlalu-terlalu sedikit.

Sesi Papua bersama Garin Nugroho
Sesi Papua bersama Garin Nugroho

Ujaran tentang kesempatan bagi kawan-kawan di Papua tersebut bahkan diiyakan oleh Garin Nugroho di sesi terakhir. Garin pernah membuat film sosial-politik berseting Papua—bukan film traveling seperti yang jadi kelatahan film Indonesia belakangan ini—berjudul Aku Ingin Menciummu Sekali Saja (2002). Alih-alih sesensual judulnya, ini adalah film yang filosofis karena apa adanya.

Garin menyatakan bahwa masyarakat Papua memiliki bakat natural dalam melakukan apa pun, termasuk berakting. Dengan diberi kesempatan dan sedikit saja pengarahan, mereka sanggup memberikan performa yang memukau. Kesempatan inilah yang harus terus diusahakan.

Jadi, mengadaptasi kalimat yang sudah tersapa tulis di awal, apakah berbagai usaha untuk mendekatkan isu-isu sosial-politik melalui FFF ini bakal masih ada bekasnya setelah sekian waktu? Semoga.

loading...