Film tentang Sepasang Lansia Palestina “Roshmia” Menangi Festival Film Dokumenter 2016

0
274
views

1000px-penghargaan-dan-penutupan-ffd-2016-tersapacom

Film tentang Sepasang Lansia Palestina “Roshmia” Menangi Festival Film Dokumenter 2016

Sabtu malam (10/12), penghargaan Film Dokumenter Penjang Festival Film Dokumenter (FFD) 2016 berhasil menjadi milik Roshmia. Ini adalah film yang mengikuti kegigihan sepasang lansia asal Lembah Roshmia, Palestina dalam menghadapi Pemerintah Israel yang mau memuluskan proyek jalan baru.

Di film Roshmia, Salim Abu Jabal sebagai sutradara berhasil memotret kesederhanaan pikir lewat 70 menit durasi. Yousef dan Amna, pasangan lansia tersebut, tidak ada intensi muluk-muluk dalam rangka mempertahankan tempat tinggal mereka kecuali sekadar ingin hidup damai jauh dari keramaian. Wajar, Roshmia adalah lembah alami terakhir di Haifa.

Selain Roshmia, FFD juga memberikan Special Mention untuk film asal Kanada garapan Maria Teresa Larrain berjudul Shadow Girl serta film asal Indonesia karya Manuel Alberto Maia bertajuk Nokas. Kedua film tersebut sama-sama sukses bertutur tentang wujud perjuangan dan keteguhan.

Sedangkan untuk kategori Film Dokumenter Pendek, gelar jawara menjadi milik Dwitra J. Ariana berkat karyanya Petani Terakhir.

Melalui film berdurasi 39 menit ini kita diajak untuk mengalami kegamangan serupa yang dirasakan oleh Nyoman Sutama.

loading...

Teman-temannya satu-persatu menjual sawah yang dipunyai. Untuk pemikiran jangka pendek, keputusan ini nampak sangat relevan, mengingat harga tanah sedang berada di posisi menggiurkan. Nyoman tetap berusaha menggarap sawahnya meskipun berbagai masalah sedang gencar menyasar petani. Tunggu sampai Anda diajak untuk berada di posisi ketika Nyoman berdiskusi dengan ibunya perihal keinginannya menjual beberapa petak sawah.

Dan di kategori terakhir, Film Dokumenter Pelajar, FFD mengganjar 1880 mdpl karya Riyan Sigit Wiranto dan Miko Saleh dari Aceh Documentary Junior sebagai film terbaik.

Berdampingan dengan Special Mention untuk Kami Hanya Menjalankan Perintah, Jenderal! Garapan Ilman Nafai yang mengungkap sisi lain dari tragedi G30/S.

Penghargaan buat 1880 mdpl diterima oleh perwakilan Aceh Documentary. Melalui film ini dan film-film lain yang diproduksi, Aceh Documentary ingin memperkenalkan citra Aceh yang lain. Sehingga ketika menyebut Aceh, orang-orang tidak melulu mengasosiasikan dengan tsunami maupun tindakan represif yang pernah terjadi.

Harapan tersebut masuk akal, ambil contoh, di 1880 mdpl, yang disorot adalah komunitas transmigran tahun 1997 asal Jawa yang sekarang tinggal di Aceh. Di sana mereka menjadi pekebun kopi, sayangnya kondisi ekonomi menjadi batu sandungan, belum lagi kondisi tanah tidak subur. Sebagai jalan keluar, banyak yang kemudian membuka lahan baru di lingkungan hutan lindung. Ini adalah ironi, yang bahkan membuat penonton semacam tidak diberi opsi untuk menentukan benar salah.

Malam penghargaan sekaligus penutupan gelaran FFD ke-15 ini bertempat di Gedung Societet Militaire. Di fragmen penutup, seluruh panitia maju ke depan dan mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang ikut menyukseskan FFD 2016. Dipimpin Greg Arya, FFD berjanji untuk berjumpa kembali tahun depan.

Malam perayaan ditutup dengan menonton film pemenang kategori Dokumenter Pelajar, 1880 mdpl.

loading...