Bertamu ke Merbabu (Part 2)

1
153
views

DSCF1384

Perjalanan sempat terhenti di sebuah bedeng tempat penampungan jerami. Hujan deras kembali turun. Kita kembali berhenti dan mengeluarkan jas hujan masing-masing.  Kita sepakat melanjutkan perjalanan dengan menembus hujan.Sekitar 15 menit jalan, kita sampai di pintu masuk jalur pendakian Merbabu. Ditandai oleh sebuah bangunan makam bercat kuning.

Jalur pendakian berubah kontur dari conblok menjadi tanah dengan tingkat kemiringan yang cenderung lebih landai ketimbang sebelumnya. Vegetasi jalur berupa pepohonan tinggi dan rerumputan hijau yang terlihat segar. Dikarenakan banyaknya jalur air, kita harus berhati-hati saat memilih jalan yang tepat. Kalau salah belok, kita bisa nyasar atau dipaksa menghadapi tanjakan curam yang jarang dilalui manusia.

Setelah berjalan sekitar satu jam, kita sampai di pos 1. Sebuah pelataran kecil yang berisi beberapa batang pohon yang melintang dan dapat dipakai sebagai tempat duduk bagi para pendaki yang ingin beristirahat sejenak. Disini kita berhenti sejenak untuk melemaskan kaki yang cukup tegang dan kaku. Tak lupa kita menyantap Coki-Coki untuk mengisi tenaga.

Perjalanan kita lanjutkan menuju pos 2, kontur jalan berupa tanah lempung yang cukup licin saat dipijak. Di tengah perjalanan, kita bertemu dengan pendaki lain yang berasal dari Tangerang. Tim mereka terdiri dari tiga orang, namun pada saat itu kita hanya bertemu dengan dua diantaranya. Satu lagi udah ngacir ke pos 2 untuk mendirikan tenda. Mulai saat itu, tim kita bergabung. Teman pendakian kita bertambah tiga orang.

Sekitar dua jam perjalanan, kita sampai di pos 2. Pos ini sering dipakai camp oleh para pendaki karena terdapat mata air yang melimpah ruah. Selain itu, kontur pos yang datar beralaskan rumput memudahkan para pendaki untuk mendirikan tenda. Di sekeliling pos kita bisa melihat bukit-bukit Merbabu yang terlihat seperti kampung halaman Hobbit dan Teletubbies. Biasanya para pendaki bermalam disini dan melanjutkan perjalanan menuju puncak saat pagi-pagi buta. Jarak tempuh antara pos 2 dan puncak adalah sekitar tiga jam perjalanan.

Setelah berdiskusi sejenak, kita memutuskan untuk tidak camp di pos 2. Waktu masih menunjukkan pukul 1600 dan kita merasa tanggung untuk menghentikan perjalanan. Dalam hemat kita, lebih baik mendekati puncak dan sampai agak malam agar keesokan harinya tidak harus bangun terlalu pagi. Bahkan diatas gunung pun kita malas bangun pagi. Ha!

Pukul 16.30 kita berangkat dari pos 2, melanjutkan perjalanan ke puncak Menara, salah satu puncak gunung Merbabu. Rencananya kita akan camp disana.

Jalur demi jalur dan tanjakan demi tanjakan kita lalui, hingga pada sekitar pukul 18.30 kita sampai di sebuah persimpangan. Keadaan perut sudah lapar keroncongan dan kedua kaki terasa lelah untuk melangkah. Di jalur sebelah kanan terdapat plang Puncak, namun terdapat tanda silang di ujungnya. Di jalur sebelah kiri, terdapat jalur tanah mendatar dan ada jejak sampah di atasnya. Tanda bahwa jalur tersebut sering dilewati. Gelap menyelimuti jarak pandang dan menyulitkan kita memilih jalur yang benar.

Pada awal pendakian, kita sempat diberikan wejangan oleh penjaga base camp agar menyusuri jalur kiri untuk mencapai puncak Merbabu. Berdasarkan wejangan tersebut, akhirnya kita memilih jalur kiri.

Jalur tersebut terlihat indah di awal namun menyesakkan di akhir. Jalan mendatar itu hanyalah PHP. Karena setelahnya kita dipertemukan dengan tebing bebatuan dengan sudut kemiringan 90 derajat. Disini kita dipaksa panjat dengan kaki gemetar, perut lapar, dan berselimut kegelapan malam. Sedikit tertatih, akhirnya kita sampai di suatu pelataran kecil yang muat untuk dua tenda.

loading...

Di pelataran itu terdapat sebuah tugu yang bentuknya mirip batang korek api berwarna putih. Di sekitar tugu terdapat sebaran bebatuan yang teronggok kaku menyambut kita. Tentu saja kita bingung, karena tujuan kita adalah puncak Menara dan tidak terlihat tanda-tanda adanya menara di tempat ini.

Otak sudah terlalu lelah untuk berpikir dan kaki sudah terlalu getir untuk melangkah. Tidak ada seberkas niat untuk lanjut menapak. Perjalanan resmi dihentikan dan kita sepakat untuk mendirikan camp di pelataran kecil tersebut.

Tingginya posisi daerah (sekitar 2.500 mdpl) membuat kita seakan bertamu ke kerajaan angin. Prosesi mendirikan camp terasa seperti pertempuran dengan angin. Dinginnya udara yang bergerak kencang membekukan telapak tangan, menggetarkan tangan yang sedang memantapkan pancang tenda. Kalang kabut, tenda berkali-kali salah berdiri karena strukturnya tertiup angin. Bahkan angin tetap mengganggu pada saat tenda sudah berdiri dan kita ada di dalamnya.

Pada pukul 23.30, disaat perut kita sudah terisi makanan dan mulai tertidur lelap, tenda bergoyang hebat seakan mau diterbangkan ke langit. Dimensi tenda serasa menyempit akibat frame yang berbelok diterpa angin. Bunyi kepakan tenda mencipta harmoni mengerikan, menambah syahdu suasana. Mata gue pejamkan erat dan untungnya berhasil tertidur.

Pukul 01.30, gue kembali terbangun. Udara dingin yang menusuk tidak membiarkan gue beristirahat dengan tenang. Terpaan angin sebelumnya sudah hilang, berganti heningnya dingin yang menusuk-nusuk kulit. Tangan gue gerakkan ke pinggir tenda, meraih speaker portable dan memutar lagu Sigur Ros. Membuai.

***

Waktu telah menunjukkan pukul 02.30 dan mata gue tidak bisa terpejam lagi. Alunan suara Jonsi tidak bisa menjadi kendaraan menuju mimpi. Sesuai jadwal, gue langsung membangunkan semua anggota tim untuk bersiap-siap Summit Attack menuju Khenteng Songo, puncak tertinggi Merbabu. Gue langsung bergerak keluar tenda untuk meregangkan badan.

Udara diluar tenda cukup dingin walau tidak sadis seperti semalam. Angin seakan masih tidur dan bersembunyi entah kemana. Di atas kepala, terlihat langit kelam yang bertabur bintang, berpadu mesra dengan cahaya lampu kota yang mengintip genit di tepian gelap.

Sebelum memulai perjalanan, kita berenam kumpul sejenak dan berdoa memohon keselamatan di perjalanan. Batu-batu yang berserak mengawali perjalanan kita dan udara terasa tipis saat berjalan. Sesaat kita langsung tersengal-sengal, beradaptasi dengan alam. Cahaya bulan bersinar lantang menerangi jalur menuju puncak, menemani kita di tengah kepungan gelap.

Tak beberapa lama berjalan, kita sampai di sebuah pelataran luas yang terlihat lebih nyaman untuk camp. Namun berhubung kemarin malam otak dan badan sudah tidak kompak diajak bereaksi, maka kita tidak mampu mengeksplorasi tempat lebih lanjut. Di pelataran ini terdapat tugu peringatan untuk pendaki yang (sepertinya) tidak beruntung dan harus menghentikan perjalanan hidupnya di tempat itu.

Pelataran ini mengarah pada dua jalur. Jalur kanan terlihat meyakinkan, curam, dan terlihat lebih singkat namun sepertinya jarang dilewati, terlihat dari rapatnya tumbuh-tumbuhan yang menutupi jalur.

Akhirnya kita memilih jalur sebelah kiri yang menurun dan terlihat tidak meyakinkan, namun merupakan jalur yang benar. Ditandai oleh penunjuk jalan bertuliskan Puncak Helipad, salah satu puncak Merbabu, berbentuk pelataran luas yang terbuka tanpa tertutup pepohonan. Dari bibir puncak kita bisa melihat kota dan Puncak Menara. Di bawah Puncak Menara, terlihat dua tenda kita yang terlihat seperti kutu kuning. Ternyata tempat kita camp tepat berada di bawah puncak Menara.

Perjalanan kembali kita lanjutkan…Bersambung ke Bertamu ke Merbabu Part 3

Penulis: Mirzal Dharmaputra

Diambil dari blog pribadi atas izin sang penulis, mirzaldputra.blogspot.com

loading...
Previous articleBertamu ke Merbabu (Part 1)
Next articleBertamu ke Merbabu (Part 3)
tersapac
Terdiri dari banyak kontributor yang mengirimkan artikelnya kepada redaksi tersapa.com
SHARE